Open Journal Systems

LIVING SUNNAH IN LOCAL CONTEXT: The Practice of Two Calls (Azan) for Fajr Prayer at al-Furqan Mosque, Banjarmasin

Syifa Mufida, Hairul Hudaya

Abstract

The practice of delivering the dawn call to prayer (azān Subuh) twice at the Al-Furqan Mosque in Bumi Mas Raya, Banjarmasin, represents a form of living sunnah—the contextualized enactment of the Prophet Muhammad’s traditions within a specific local setting. This study aims to examine the implementation of this practice, explore community perceptions, and identify the educational values embedded within it. Employing a qualitative descriptive approach, data were collected through in-depth interviews with mosque administrators, staff, and congregants, as well as through direct observation and document analysis, including official azan schedules. The findings reveal that the first azān functions as a preparatory reminder for the dawn prayer, while the second marks its actual commencement. The community largely supports this practice, although most are unfamiliar with its basis in hadith literature. Beyond its ritual function, the practice holds significant educational value, fostering spiritual discipline and promoting ethical, social, cultural, psychological, physical, and familial development. This study contributes to the discourse on living sunnah by highlighting how prophetic traditions continue to be interpreted and embodied within contemporary Muslim communities, reflecting dynamic interactions between textual heritage and local religious life.

 

[Praktik pelafalan azan Subuh sebanyak dua kali di Masjid Al-Furqan, Bumi Mas Raya, Banjarmasin, merupakan bentuk living sunnah—yakni penerapan tradisi Nabi Muhammad yang dikontekstualisasikan sesuai dengan realitas lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan praktik tersebut, memahami persepsi masyarakat, serta mengidentifikasi nilai-nilai edukatif yang terkandung di dalamnya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengurus masjid, petugas, dan jamaah sekitar, serta melalui observasi langsung dan analisis dokumen, termasuk jadwal azan resmi. Temuan menunjukkan bahwa azan pertama berfungsi sebagai pengingat untuk mempersiapkan diri dalam beribadah, sedangkan azan kedua menandai masuknya waktu salat Subuh. Masyarakat secara umum menerima praktik ini dengan baik, meskipun sebagian besar tidak mengetahui dasar rujukan hadisnya. Lebih dari sekadar fungsi ritual, praktik ini memiliki nilai edukatif yang signifikan, mendorong kedisiplinan spiritual serta menguatkan aspek etika, sosial, budaya, psikologis, fisik, dan keluarga. Studi ini memberikan kontribusi terhadap wacana living sunnah dengan menunjukkan bagaimana tradisi kenabian terus diinterpretasikan dan dihidupkan dalam kehidupan masyarakat Muslim kontemporer, mencerminkan interaksi dinamis antara warisan tekstual dan praktik religius lokal.]

Keywords


Educational Values, Fajr Call to Prayer Twice, Living Sunnah.

References


Ansyori, M. (2024, November 29). Wawancara VI [Personal communication].

Arbainah. (2024, November 16). Wawancara II [Personal communication].

Ariyanti, M. (2024, Desember). Wawancara V [Personal communication].

Asqalani, I. H. (n.d.). Terjemah Fathul Bari Syarah Bukhari. Terjemah Kitab Kuning. Retrieved June 8, 2025, from https://www.alkhoirot.org/2018/11/terjemah-fathul-bari.html

Ayatullah, H. (2018). Studi Analisis Fajar Kazib Dan Fajar Shadiq. 2.

Birry, A. I. (2024). Pemahaman Hadis Tentang Azan Sebelum Subuh (Analisis Metode Pemahaman Hadis Yūsuf al-Qarḍa’wī) [bachelorThesis]. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/80623

Darjat, N. (2024, November 16). Wawancara I [Personal communication].

Febriani, S., Akmal, A. M., & Hasan, H. (2022). Perspektif Thomas Djamaluddin Terhadap Eksistensi Fajar Ṡadiq Dalam Penentuan Awal Waktu Subuh.

Hamidi, R. D. E., & Wardefi, R. (2024). Implementasi Kegiatan Didikan Subuh dalam Pembentukan Karakter Religius pada Santri Usia Dini. Asian Journal of Early Childhood and Elementary Education, 2(4), Article 4. https://doi.org/10.58578/ajecee.v2i4.3662

Hasan, H. (2022). Peran Suara Azan Sebagai Syiar Dalam Islam. Siyasah : Jurnal Hukum Tata Negara, 5(1). https://ejournal.an-nadwah.ac.id/index.php/Siyasah/article/view/419

Hasan, N. S. (n.d.). Nilai dan Wacana Pendidikan Karakter. wawasan Ilmu.

Hasanah. (2024, November 16). Wawancara IV [Personal communication].

Iyadh, Qadhi. (2000). Ikmal al-Mu'allim bi Fawaid Muslim: Syarh Shahih Muslim. Beirut: Dar al-Fikr.

Jaya, S. A. F. (2019). Al-qur'an dan Hadis sebagai Sumber Hukum Islam. Indo-Islamika, 9(2), 204–216. https://doi.org/10.15408/idi.v9i2.17542

Khafidah, W., Saidina, S., Mulda, Muldi, Padri, I., Is, I., Safrina, Amanda, N., Jumaidar, Yanti, N., Tanuja, S., Febriana, Y., Anjelia, A. A. D., Linda, M., Alufia, E., Firahmadia, I., & Ayu, S. (2023). Ulumul Hadist. Penerbit NEM.

Lickona, T. (2019). Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar & Baik. Nusamedia.

Lina. (2024, November 16). Wawancara V [Personal communication].

Muhammad Setyo Ady, W. (2023). Respon Masyarakat Terhadap Perubahan Awal Waktu Subuh Di Masjid Mujahidin (Studi Kasus Masjid Mujahidin Desa Getas Pejaten Kabupaten Kudus).

Muslich, M. (2022). Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Musolin, M., & Mukhtar, N. (2023). Living Hadis Berjama’ah Shalat Empat Puluh Hari Pada Masyarakat Desa Salam Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur’an dan Hadist, 6(1), Article 1. https://doi.org/10.35132/albayan.v6i1.230

Muthmainna, A., Siroj, R. A., & Hartatiana. (2025). Mastering the art of qualitative data analysis and interpretation: Key steps and procedures. FiHeSu International Journal of Education and Development Research (FIJEES), 2(1), Article 1. https://ejournal.fihesu.com/index.php/FIJEES/article/view/12

Ridha, A. A. (2015). Implikasi Kualitas Shalat Subuh Dalam Kehidupan Remaja. 8.

Riyadi, R., & Setyawan, M. A. (2021). Legaliatas Azan Di Al-Quran (Studi Tafsir Maudhui). Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur’an Dan Tafsir, 6(2), Article 2. https://doi.org/10.47435/al-mubarak.v6i2.621

Rusmilawati. (2024, November 16). Wawancara III [Personal communication].

Sahih al-Bukhari. (n.d.). Google Drive. Retrieved November 27, 2024, from https://drive.google.com/drive/folders/16ygQgSLgt3Jdm6YfK1RmO5SepMXYyZe7

Suryadilaga, M. A. (2009). Aplikasi Penelitian Hadis dari Teks ke Konteks (I). Yogyakarta: Teras.

Syah, A. F. (2022). Konsep Pelaksanaan Adzan Dan Iqomah Dalam Kajian Kitab Fath Al-Mu’in “Studi Kasus Di Pondok Pesantren Al-Amien Rejomulyo Kota Kediri” [Undergraduate, IAIN Kediri]. https://etheses.iainkediri.ac.id/6049/

Syamsuri, H. A. (n.d.). Hadis Tentang Azan Ditinjau Dari Segi Sejarah: Kajian Masalah Azan Subuh dan Jumat.

Zunan, A. (n.d.). Mengapa ada azan pada jam 3 pagi padahal pada saat salat subuh ada azan lagi sehingga ada 2 kali azan? Quora. Retrieved June 8, 2025, from https://id.quora.com/Mengapa-ada-azan-pada-jam-3-pagi-padahal-pada-saat-salat-subuh-ada-azan-lagi-sehingga-ada-2-kali-azan


Full Text: PDF

DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.30591

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.