Open Journal Systems
The Meaning of Syarab in QS. An-Nahl [16]:69: Integrating Qur’anic Exegesis and Roland Barthes’ Semiotics
Abstract
The interpretation of the Qur’anic verses does not stop at a literal understanding, but demands an approach capable of uncovering layers of symbolic meaning. This study analyzes the term syarab in QS. An-Nahl [16]:69 using Roland Barthes’ semiotic theory, which divides meaning into two sign systems: the first level (denotation/linguistics) and the second level (myth/connotation). This research employs a qualitative method with descriptive-analytical analysis through library research. The peimary data sources include the Qur’an, books of tafsir (exegesis), and hadith, supported by secondary data from dictionaries and related articels. The results indicate that denotatively, syarab meand “a drink”, which is anything that can be consumed. At the connotative level, syarab is understood as honey, which has various colors and healing properties, as affirmed in various classical and modern exegesis books. Honey is positioned as a symbol of divine pleasure, a sign of Allah’s power, and a medium for healing since the time of the Prophet. Barthes’ semiotic approach expands the scope of interpretation of the Qur’anic text by bridging textual and contextual meanings, and proves the relevance of semiotic studies in Qur’anic exegesis. This finding contributes to the strengthening of contemporary exegesis methodology and opens opportunities for further research on the application of semiotics in Qur’anic studies.
Penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada pemahaman literal, namun menuntut pendekatan yang mampu mengungkap lapisan makna simbolik. Kajian ini menganalisis istilah syarab dalam QS. An-Nahl [16]:69 menggunakan teori semiotika Roland Barthes yang membagi makna ke dalam dua system tanda: tingkat pertama (denotasi/linguistik) dan tingkat kedua (mitos/konotasi). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif-analisis melalui studi kepustakaan,. Sumber data primer meliputi Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir, dan hadits, didukung data sekunder dari kamus dan artikel terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotative syarab bermakna “minuman”, yaitu segala sesuatu yang dapat diminum. Pada tingkat konotatif, syarab dipahami sebagai madu yang memiliki beragam warna serta khasiat penyembuhan, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai kitab tafsir klasik dan modern. Madu diposisikan sebagai symbol kenikmatan ilahi, tanda kekuasaan Allah, serta media penyembuhan sejak masa Nabi. Pendekatan semiotika Barthes memperluas ruang interpretasi terhadap teks Al-Qur’an dengan menjembatani makna tekstual dan kontekstual, serta membuktikan relevansi kajian semiotika dalam studi tafsir Al-Qur’an. Temuan ini berkontribusi pada penguatan metodologi tafsir kontemporer dan membuka peluang penelitian lanjutan mengenai penerapan semiotika dalam studi Al-Qur’an.
Keywords
References
Akbar, F. M. (2024). Makna Kursi dalam Surat Al-Baqarah (2):255 Analisis Semiotika Roland Barthes. Jurnal Mauriduna, 5(1), 257–274.
Al-Asfahani, R. (n.d.). Al-Mufradat Fi Gharib Al-Qur’an. Maktabah Nazar Musthafa Al-Bazi.
Al-Qurthubi. (2006). Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an. Ar-Resalah.
Ambarini AS dan Umaya, N. M. (2010). Semiotika: Teori dan Aplikasi pada Karya Sastra. Upgris Press.
Asrofah. (2014). Semiotik Mitos Roland Barthes dalam Analisis Iklan di Media Massa. Sasindo, 2(1).
Az-Zuhaili, W. (2013). Tafsir Al-Munir; Terj. Abdul Hayyie al Katani (7th ed.). Gema Insani.
Bailana, U. (2024). Analisis Kata “Nikmat” Perspektif Teori Semiotika Roland Barthes dalam Surah Ar-Rahman. Konferensi Nasional Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab.
Barthes, R. (1970). Mythologies. The Noonday Press.
Bukhori. (2006). Shahih Bukhori (Maktabah A).
Ensiklopedia Al-Qur’an Kajian Kosa Kata. (2007). Tim Penyusun Ensiklopedia Al-Qur’an (3rd ed.). Lentera Hati.
Habibie, I. A. dan Hairul, M. A. (2023). Mitologi Sedekah: Penerapan Semiotika Roland Barthes pada QS. Al-Baqarah [2]:271. Jurnal Al-Qudwah, 1(1), 30.
Hamka. (1989). Tafsir Al-Azhar. Pustaka Nasional PTE LTD.
Jamaludin, M. Aini, N. Millah, A. S. (2021). Mitologi dalam QS. Al-Kafirun Perspektif Semiotika Roland Barthes. Jurnal Jalsah, 1(1), 45-61.
Kamus Bahasa Indonesia. (2008). Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (4th ed.). Pusat Bahasa.
Majah, I. (n.d.). Sunan Ibnu Majah (1st ed.). Dar Ihya’ al-Kutub Al-Arabiyyah.
Mandzur, I. (1960). Lisan Al-Arab. Dar al-Ma’arif.
Maraghi, A. M. (1946). Tafsir Al-Maraghi (14th ed.). Musthafa Al-Halabi.
Mulyaden, A. (2021). Kajian Semiotika Roland Barthes terhadap Simbol Perempuan dalam Al-Qur’an. Jurnal Hanifiya, 4(2), 139–154.
Mulyazir dan Fadillah, M. (2023). Konsep Semiotika Roland Barthes dan Aplikasinya Terhadap Kajian Al-Qur’an. Jurnal Al-Fathanah, 3(1), 28–37.
Qutb, S. (n.d.). Tafsir fi Dzilal Al-Qur’an, Terj. As’ad Yasin (7th ed.). Gema Insani.
Shihab, M. . (2022). Tafsir Al-Mishbah (7th ed.). Lentera Hati.
Taufiq, W. (2016). Semiotika untuk Kajian Sastra dan Al-Qur’an. Yrama Widya.
Wijaya, R. (2021). Makna Syifa dalam Al-Qur’an (Analisis Semiotika Roland Barthes pada QS. al-Isra 82). Jurnal Al-Adabiya, 16(2), 185–196.
DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.33389
How To Cite This :
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2025 HERMENEUTIK

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.













