Open Journal Systems
Two Initiatives of Qur’anic Methodological Interpretation in Contemporary Indonesia: A Study of Tafsir Maqasidi and Ma’na-cum-Maghza
Abstract
This article examines the ma‘nā-cum-maghzā and Maqāsid-based interpretation approaches initiated by Indonesian Muslim scholars. While most existing research predominantly focuses on applying these two methodologies, this article critically analyzes the construction of both methodologies to understand their methodological applications and the extent of the contributions offered by these interpretation methodologies. The study argues that, firstly, the conceptual framework and methodology of ma‘nā-cum-maghzā and Maqāsid-based interpretation still heavily rely on the previous scholars’ ideas and have yet to find relatively new grounding and expansion, despite both claiming to extend beyond the boundaries of legal verses in the Qur’an. Secondly, in terms of practical implementation, the ma‘nā-cum-maghzā methodology appears to be more structured in its formulation, while the Maqāsid-based interpretation, on the other hand, still lacks a concrete formulation of its interpretative steps. Mustaqim, in this regard, only formulates principles for interpreting the Qur’an based on maqāsid. Thirdly, although they may differ conceptually and terminologically, both methodologies converge and share similarities in seeking the main message of the Qur’an. Mustaqim refers to it as maqāsid, while Sahiron terms it as historical phenomenal significance. Similarly, in terms of contextualization perspective, Mustaqim refers to it as the movement of text (harakiyyat al-nass), while Sahiron terms it as dynamic phenomenal significance.
Artikel ini mengkaji pendekatan ma‘nā-cum-maghzā dan tafsīr maqāsidī yang diinisiasi oleh sarjana Muslim Indonesia. Jika mayoritas penelitian yang ada lebih dominan untuk mengaplikasikan kedua metodologi tersebut, artikel ini hendak menelaah secara kritis terhadap konstruksi kedua metodologi itu untuk melihat bagaimana aplikasi metodologi dan sejauh mana kontribusi yang ditawarkan dari kedua metodologi penafsiran tersebut. Penelitian ini berargumen bahwa, pertama, bangunan konsep dan metodologi ma‘nā-cum-maghzā dan tafsīr maqāsidī masih sepenuhnya berpijak dari konsepsi-konsepsi pemikiran ulama sebelumnya, dan bahkan belum menemukan titik pijakan dan perluasan yang relatif baru, meskipun keduanya mengklaim melampaui batasan ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an. Kedua, dalam wilayah aplikatifnya, metodologi ma‘nā-cum-maghzā terlihat lebih terstruktur dalam perumusan metodenya. Sedangkan tafsīr maqāsidī, tampaknya masih belum terumuskan secara konkret langkah-langkah penafsirannya. Mustaqim dalam hal ini, hanya merumuskan prinsip-prinsip dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan berbasis pada maqāsid. Ketiga, meskipun terlihat berbeda secara konsep dan terminologis, keduanya menemukan titik persinggungan dan persamaan dalam mencari pesan utama teks al-Qur’an. Dalam bahasa Mustaqim disebut dengan maqāsid, sedangkan dalam terminologi Sahiron disebut dengan signifikansi fenomenal historis. Demikian juga dengan perspektif kontekstualisasi, yang dalam bahasa Mustaqim disebut dengan gerak teks (harakiyyat al-nass), sedangkan dalam terminologi Sahiron disebut dengan signifikansi fenomenal dinamis.
Keywords
References
Abu Zayd, N. H. (1994). Naqd al-Khitab al-Dini. Sina.
Abu Zayd, N. H. (2014). Mafhum al-Nass: Dirasah fi ’Ulum al-Qur’an. Al-Markaz al-Thaqafi al-’Arabi.
Al Baihaqi, M. D. (2022). Unveiling the Implicit Message: A Comprehensive Exploration of Qur’anic Democracy using Ma’na-cum-Maghza Approach. Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Dan Hadis, 23(2), 391–416. https://doi.org/10.14421/qh.v23i2.4616
al-Zarkashi, B. al-D. M. b. ‘Abdillah. (2006). Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an (A. al-Fadl Al-Dimyati, Ed.). Dar al-Hadith.
al-Zarqani, ‘Abd al-‘Azim. (2010). Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (A. Shamsuddin, Ed.). Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.
Anshori, A. (2013). Ulumul Qur’an: Kaidah-kaidah Memahami Firman Tuhan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Anshori, A. (2022). Tabayyun dalam Bermedia Sosial; Studi atas Qs. al-Hujurāt (49): 6 dalam Perspektif Ma’nā cum Maghzā Sahiron Syamsuddin. HERMENEUTIK, 16(2), 285. https://doi.org/10.21043/hermeneutik.v16i2.13625
Auda, J. (2007). Maqasid al-Shari‘ah as Philosophy of Islamic Law A System Approach. The International Institute of Islamic Thought.
Drajat, A. (2017). Ulumul Qur’an: Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Kencana Prenada.
Esack, F. (1997). Qur’an Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity against Oppression. One World Oxford.
Ibn Kathir, A. al-F. I. (t.th). Tafsir al-Qur’an al-Azi>m. Mu’assasat Qurtubah.
Iwanebel, F. Y. (2020). Genealogi dan Tipologi Tafsir Maudu’I di Indonesia. In A. Baidowi (Ed.), Tafsir Al-Qur’an di Nusantara (pp. 353–385). Ladang Kata & Asosiasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
‘Iya>zi>, M. ‘Ali. (1373). Mufassirun: Hayatuhum wa manhajuhum. Mu’assasat al-Tiba’ah wa al-Nashr.
Lukman, F. (2020, September 16). Ma’na-cum-Maghza. https://aiat.or.id/event/mana-cum-maghza
Musfiqoh, N., Hamidah, T. N., Nauval, M. H., & Naqiah, N. (2022). Analisis-Kritis Tafsir Maqashidi atas Penafsiran Poligini Muhammad Syahrur. HERMENEUTIK, 16(2), 241. https://doi.org/10.21043/hermeneutik.v16i2.14238
Mustaqim, A. (2012). Epistemologi Tafsir Kontemporer. LKiS.
Mustaqim, A. (2019a). Al-Tafsir al-Maqasidi: Al-Qadaya al-Mu’asirah fi Daw’ al-Qur’an wa al-Sunnah al-Nabawiyyah. Dar al-Fikr.
Mustaqim, A. (2019b). Argumentasi Keniscayaan Tafsir Maqashidi sebagai Basis Moderasi Islam. UIN Sunan Kalijaga.
Najiyah, N. L. N. N., & Nurhaedi, D. (2022). Between Prohibition and Permissibility of Islamic Art: An Application of Ma’na-Cum-Maghza Approach on Hadiths of Music, Painting and Dance. Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Dan Hadis, 23(2), 237–260. https://doi.org/10.14421/qh.v23i2.3641
Nawawi, R. S. (2002). Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh. Paramadina.
Rifqi, M. A., & Thahir, A. H. (2019). Tafsir Maqasidi: Membangun Paradigma Tafsir Berbasis Mashlahah. Millah, 18(2), 335–356. https://doi.org/10.20885/millah.vol18.iss2.art7
Saeed, A. (2006). Interpreting the Qurʼān: Towards a contemporary approach. Routledge.
Setiawan, A. (2016). Hermeneutika al-Qur’an “Mazhab Yogya.” 17(1). https://doi.org/10.14421/qh.2016.1701-04
Shihab, Q. (1992). Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Mizan.
Suma, A. (2013). Ulumul Qur’an. Raja Grafindo Persada.
Syamsuddin, S. (2017a). Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an (Edisi Revisi dan Perluasan). Pesantren Nawasea Press.
Syamsuddin, S. (2017b). MA‘NA-CUM-MAGHZA APPROACH TO THE QUR’AN: INTERPRETATION OF Q. 5:5. Proceedings of the International Conference on Qur’an and Hadith Studies (ICQHS 2017), 137, 131–136. https://doi.org/10.2991/icqhs-17.2018.21
Syamsuddin, S. (2020). Metode Penafsiran dengan Pendekatan Ma‘na-Cum-Maghza. In S. Syamsuddin (Ed.), Pendekatan Ma‘na-cum-Maghza atas al-Qur’an dan Hadis: Menjawab Problematika Sosial Keagamaan di Era Kontemporer. Asosiasi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir se-Indonesia & Ladang kata.
Teungku Hasbi ash-Shiddieqy. (2009). Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Pustaka Rizki Putra.
Zulaiha, E. (2017). Tafsir Kontemporer: Metodologi, Paradigma dan Standar Validitasnya. Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya, 2(1), 81–94. https://doi.org/10.15575/jw.v2i1.780
DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.28446
How To Cite This :
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2025 HERMENEUTIK

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.













