Open Journal Systems
A COMPARATIVE STUDY OF AHMAD IBN HANBAL AND IMAM AL-SHAWKANI ON HADITHS OF OBEDIENCE TO UNJUST RULERS: Between Political Stability and Moral Accountability
Abstract
Obedience to rulers constitutes an important theme in hadith studies because of its close relationship with the political stability and social order of the Muslim community. This article compares the perspectives of Ahmad Ibn Hanbal and Imam al-Shawkani regarding hadiths on obedience to unjust (zhalim) leaders. It analyzes how both scholars evaluate the authenticity of these traditions through sanad and matan criticism and examines the interpretive implications of their understanding and application. Employing a qualitative method based on library research with a comparative approach, the study uses Usul al-Sunnah by Ahmad Ibn Hanbal and Nayl al-Awtar by Imam al-Shawkani as primary sources. The data are analyzed descriptively and comparatively to highlight differences in their approaches to both riwayah (assessment of chains of transmission and textual quality) and dirayah (interpretation and practical implications). The findings reveal that Ahmad Ibn Hanbal emphasized near-absolute obedience to rulers in order to preserve political stability and prevent fitnah, permitting disobedience only when rulers explicitly command disbelief. In contrast, Imam al-Shawkani advocated conditional obedience and recognized the legitimacy of criticizing and rejecting policies that contradict Islamic law. By comparing two prominent scholars from different historical periods, this study demonstrates that the understanding of hadiths on leadership is not fixed or absolute but rather dynamic and shaped by varying social and political contexts.
Ketaatan kepada pemimpin merupakan salah satu tema penting dalam kajian hadis karena memiliki hubungan yang erat dengan stabilitas politik dan tatanan kehidupan umat Islam. Artikel ini membandingkan pandangan Ahmad Ibn Hanbal dan Imam al-Syaukani mengenai hadis-hadis tentang ketaatan kepada pemimpin yang zhalim. Kajian ini menganalisis bagaimana kedua tokoh tersebut menilai autentisitas hadis melalui kritik sanad dan matan, serta menelaah implikasi interpretatif dari pemahaman dan penerapannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan komparatif. Sumber data utama berasal dari Usul al-Sunnah karya Ahmad Ibn Hanbal dan Nayl al-Awtar karya Imam al-Syaukani, yang dianalisis secara deskriptif dan komparatif untuk mengungkap perbedaan pendekatan keduanya dalam aspek riwayah (penilaian terhadap rantai periwayatan dan kualitas teks) serta dirayah (penafsiran dan implikasi praktis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ahmad Ibn Hanbal menekankan ketaatan yang hampir bersifat mutlak kepada penguasa demi menjaga stabilitas politik dan mencegah fitnah, dengan pengecualian ketika penguasa secara jelas memerintahkan kekufuran. Sebaliknya, Imam al-Syaukani menegaskan bahwa ketaatan bersifat kondisional dan mengakui legitimasi untuk mengkritik bahkan menolak kebijakan penguasa yang bertentangan dengan syariat Islam. Dengan membandingkan dua ulama terkemuka dari periode sejarah yang berbeda, penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap hadis-hadis tentang kepemimpinan tidak bersifat tetap dan absolut, melainkan dinamis serta dipengaruhi oleh konteks sosial dan politik yang melingkupinya.
Keywords
References
Abd. Azid, M. A., & Ahmad, K. (2019). Interpretation of Hadith Texts Based on Maqāṣid al-Sharī‘ah by Muḥaddithīn. Online Journal of Research in Islamic Studies, 6(1), 19–30. https://doi.org/10.22452/ris.vol6no1.2
Abdullah al-Amri, H. bin. (1990). Al Imam asy Syaukani Ra’id ’Ashrihi Dirasatu fii Fiqhihi wa Fikrihi (1st ed.). Daar al-Fikr.
Agustiansyah, A., Fuadi, Z., & Putrawan, A. D. (2023). Kekerasan Intelektual dalam Sejarah Peradaban Islam. Sophist: Jurnal Sosial Politik Kajian Islam Dan Tafsir, 4(2), 242–265. https://doi.org/10.20414/sophist.v4i2.77
Ahmad Azmi Ahsantu Dhonni. (2023). Positioning Ahl Al-Bayt Without Tendencies: Al-Shawkani’s Contribution to Determining the Hadith in Islamic Sharia. Al’Adalah, 26(1), 57–70. https://doi.org/10.35719/aladalah.v26i1.349
Ahmed, M., & Balisani, H. (2024). Imam Ahmad (may Allah have Mercy on him) and his Approach to the Musnad. Islamic Sciences Journal, 14(9), 227–244. https://doi.org/10.25130/jis.23.14.9.1.11
al-Maqdisi, T. A. M. A. G. (1987). Mihnah Imam Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal (1st ed.). Hajr.
Ali Musri, M., & Grafika Penataran, R. (2023). تطبيق أحاديث السمع والطاعة للسلطان عند المحدثين وأثره في استقرار الوطن (الإمام أحمد نموذجا). AL-ATSAR: Jurnal Ilmu Hadits, 1(2), 23–43. https://doi.org/10.37397/al-atsarjurnalilmuhadits.v1i2.449
Al-Shafi’i, M. M. O., Al-Qubatli, D. A. M., Suhari, M. H. B., & Hammed, I. R. F. (2025). The Yemeni Contemporary Calls for Reform: A Model in Imam al- Shawkani. 46(1).
Asep Saepudin. (2024). Analisis Hadis-Hadis tentang Taat Kepada Pemimpin Implikasi dalam Kehidupan Bernegara. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(2), 53–62. https://doi.org/10.58540/isihumor.v2i2.678
As-Sajid, Y. (2024). Hadits-Hadits Tentang Kewajiban Mendengar Dan Taat Kepada Pemimpin Dan Pengaruhnya Terhadap Stabilitas Politik Negara. AL-ATSAR: Jurnal Ilmu Hadits, 2(1).
Astuti, D., Rahmawati, S., & Satriadi, I. (2024). Tinjauan Al-Qur’an dan Hadits Tentang Pemimpin dan Persyaratanya. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5(2), 2219–2231. https://doi.org/10.54373/imeij.v5i2.1013
Asy Syaukani, M. ibn A. (1987). Ad-Darari al-Mudhiyah Syarh ad-Durar al-Bahiyyah. Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.
Asy Syaukani, M. ibn A. (1990). Nailul Authar Syarh Muntaqal Akhbar. al-Awqaf as-Su’udiyah.
Asy Syaukani, M. ibn A. (2010). Tafsir Fath al-Qadir. Daar an-Nawaadir.
Atabik, A., & Mustaqim, M. (2020). Political, Religious and Social Unrest in Yemen in the 18th And 19th Centuries during the Late Ottoman Dynasty. Journal of Islamic Thought and Civilization, 10(2). https://doi.org/10.32350/jitc.102.06
Azzahra, A. N., & Arifin, T. (2024). Metodologi Imam Ahmad bin Hanbal dalam Menilai Kredibilitas Perawi Hadis. Asian Journal of Islamic Studies and Da’wah, 2(4), 300–315. https://doi.org/10.58578/ajisd.v2i4.3139
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa.
Diva Kurnia Dwi, S. (2025). Prinsip Keadilan Dalam Syariat Islam: Antara Kewajiban Berlaku Adil Dan Larangan Dzhalim. Jurnal Kajian Islam dan Keagamaan, 2(4).
Hanbal, I. A. ibn. (1999). Ushūl al-Sunnah lil Imām Ahmad bin Hanbal. al-Mubarak.
Hardi, M. M. (2024). Pemahaman Ulama Hadis (imam Ahmad Bin Hanbal) Terhadap Ketaatan Kepada Pemimpin Serta Upayanya Di Dalam Menjaga Stabilitas Negara Pada Masanya. AL-ATSAR: Jurnal Ilmu Hadits.
Haykel, B. (2003). Revival and Reform in Islam: The Legacy of Muhammad al-Shawkani. Cambridge University Press.
Mandzur, I. (2009). Lisaanul Arab (Vol. 9). Daar al-Fikr.
Mohammad Abdul Al Halib. (2025). Hadith of Leadership in Islam. Taqriri: Journal of Al-Hadith Science Studies, 1(1), 11–19. https://doi.org/10.61166/taqriri.v1i1.2
Muhammad Fahmi. (2023). Oppositional Genealogy of Ḥanābilah towards al-Ma’mūn’s Miḥna Policy: Nomos and Authority Conflict. Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial Dan Budaya, 8(1), 22–40. https://doi.org/10.25217/jf.v8i1.3167
Muslim, I. (2000). Shahih Muslim (2nd ed.). Darussalam.
Olğaç, M. (2021). Al-Shawkani’s View on Ijtihad and Taqlid. Ibn Haldun University.
Pancaningrum, N. (2019). Kontekstualisasi Konsep Pemimpin Dalam Teks Hadis. Riwayah : Jurnal Studi Hadis, 4(2), 204. https://doi.org/10.21043/riwayah.v4i2.4019
Qasim Ghalib, Dr. A. G. (1988). al-Imam Al-Shawkani: Hayatuhu wa Fikruhu. Muassasah al-Risalah.
Rusyidi, I. (2023). Good Governance According To Islamic Perspective. Munaddhomah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 4(4), 1001–1007. https://doi.org/10.31538/munaddhomah.v4i4.727
Saputra, M. G. (2025). Dampak Fanatisme Aliran Terhadap Pola Pemikiran Imam Al—Shawkani dan Evolusi Studi Hadis di Yaman Abad 19. Journal of Qur'an and Hadith Studies, 14(1), 155–168. https://doi.org/10.15408/quhas.v14i1.45692
Setiawan, P. A. (2025). Studi Penyelesaian Kasus Hak-Hak Penyandang Disabilitas (Membaca Irsyâd Al-Fuhûl Karya Al-Syaukani). ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 4(8), 1881–1902. https://doi.org/10.56799/jim.v4i8.10259
Siddeh, K. A. (2021). Keadilan Dalam Perspektif Hadis: Analisis Teks Hadis Tentang Keadilan Seorang Pemimpin. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur’an Dan Hadist, 4(2), 174–186. https://doi.org/10.35132/albayan.v4i2.129
Siddiq Hasan Khan, S. (1993). Ar-Raudhah an-Nadiyah Syarh ad-Durar al-Bahiyyah (Vol. 1). Maktabah al-Kautsar.
Sormin, N., Kartika, F., & Lutfiah, H. (2025). Manhaj Penafsiran Imam As-Syaukani dalam Kitab Tafsir Fathul Qodir. 9.
Syakir, S. A. M. (2013). Musnad Imam Ahmad Syarh Ahmad Muhammad Syakir. Pustaka Azzam.
Taufiki, M., & Putra, G. R. A. (2022). Konsep Ijtihad Imam Al-Shawkani. ADALAH, 6(1), 35–42. https://doi.org/10.15408/adalah.v6i1.26568
Wahab Syakhrani, A., & Hidayah, H. (2022). Kedudukan Hadist Dalam Pembentukan Hukum. Mushaf Journal: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis, 3(1), 24–31. https://doi.org/10.54443/mushaf.v3i1.85
Wali, S., & Hifazatullah, H. (2024). Imam Al-Shawkani and the Significance of His Tafsir: With a Focus on His Use of Poetry in Explaining the Meanings of Quranic Verses. VFAST Transactions on Islamic Research, 12(2).
Yuniati. (2025). Corak Pemikiran Ulama Mazhad Setting Sosial Penguasa. Journal of Society and Scientific Studies, 1(1), 33–44. https://doi.org/10.62504/scientiva4
Zainuddin, M. (2023). Konstruksi Pemikiran Hukum Islam Imam Ahmad Ibn Hanbal: Pendekatan Sejarah Sosial Hukum Islam. Legitimasi: Jurnal Hukum Pidana Dan Politik Hukum, 12(2), 88. https://doi.org/10.22373/legitimasi.v12i2.19858
DOI: 10.21043/riwayah.v12i1.34361
How To Cite This :
Refbacks
- There are currently no refbacks.















